IKHLAS DALAM MENUNTUT ILMU

 Keikhlasan merupakan ruh dan prinsip hidup yang wajib ditanamkan dalam setiap individu. Dinamika kehidupan yang beragam, menuntut kita untuk selalu mejaga rasa keikhlasan dalam setiap pekerjaan. Seperti halnya dalam menuntut ilmu. Sebelum menuntut ilmu, hal pertama kali yang harus diperhatikan adalah berusaha selalu untuk mengikhlaskan niat. Seperti sabda Rasulullah SAW yang berbunyi : 

Semua perbuatan tergantung dengan niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan. Barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia niatkan.(H.R Bukhari) 

 Sudah dipastikan bahwa jika kita menuntut ilmu merupakan bagian dari ibadah, dan sangat mulia. Sebab dari itu, diperlukan keikhlasan yang luas dalam menjalaninya karena ikhlas adalah kesucian hati dalam beribadah atau beramal menuju kepada Allah. Dalam perihal ikhlas karena Allah SWT, Imam Asy-Syaukani dalam buku Adabu-t-Thalb wa Muntaha al-Arab berkata : 

 “Pertama kali yang wajib bagi penuntut ilmu adalah meluruskan niatnya. Hendaklah yang tergambar dari perkara yang ia kehendaki adalah syariat Allah, yang dengannya diturunkan para Rasul dan al-Kitab. Hendaklah penuntut ilmu membersihkan dirinya dari tujuan-tujuan duniawi atau karena ingin mencapai kemuliaan, kepemimpinan dan lain-lain.” 

 Keikhlasan dalam menuntut ilmu akan memberikan pengaruh terhadap diri penuntut ilmu dan sekitarnya. Diantara tanda tanda ikhlas dalam menuntut ilmu adalah sebagai berikut : 1. Membuahkan ilmu yang bermanfaat 2. Mengamalkan ilmu 3. Selalu memperbaiki niat 4. Semakin tunduk dan takut kepada Allah SWT 5. Menghindari pujian dan ketenaran 6. Semakin tawadhu’ dihadapan manusia.

 K.H Imam Zarkasyi menafsirkan arti keikhlasan didalam pondok pesantren sebagaimana berikut ini: Sepi ing pamrih (tidak karena didorong oleh keinginan memperoleh keuntungan-keuntungan tertentu), semata-mata karena untuk ibadah. Hal ini meliputi segenap suasana kehidupan di pondok pesantren; kyai ikhlas dalam mengajar, para santri ikhlas dalam belajar, para pengurus Pondok (asisten) ikhlas dalam membantu. Segala gerak-gerik dalam pondok pesantren berjalan dalam suasana keikhlasan yang mendalam. Dengan demikian terdapatlah suasana hidup yang harmonis antara kyai yang disegani dan santri yang taat dan penuh cinta serta rasa hormat.

 Didalam Pondok Pesantren tidak ada satu pihakpun yang mempunyai niatan atau keinginan untuk memperoleh imbalan jasa berupa materi. Tafsiran diatas menunjukkan bahwa dinamika Pendidikan yang berada di pesantren tidak ditujukan kecuali untuk ibadah. Ini merupakan bentuk dari sebuah keikhlasan, terlebih dalam menuntut ilmu. Bahkan, jika ditelusuri lebih dalam lagi, jiwa keikhlasan yang berada di pesantren tidak hanya tertanam dalam hal mengajar, namun semua apa aja yang dikerjakan di pesantren untuk ikut serta dalam membantu pondok dengan penuh keikhlasan tanpa mengharap imbalan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memahami Makna Kesederhanaan Yang Sesungguhnya.

KEBEBASAN MENURUT K.H IMAM ZARKASYI